Sidoarjo – Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) terus memperkuat kiprahnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, tim dosen dan mahasiswa FKK UNUSA melaksanakan program edukasi dan pendampingan di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Sidoarjo. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Motivasi Diri Santri: Strategi Edukasi Peningkatan Ibadah Santri dalam Menjaga Kebersihan di Pesantren”

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian santri. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya tantangan serius terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Hasil survei awal di Pondok Pesantren Al-Hidayah menunjukkan sekitar 80 dari 1.200 santri menderita skabies. Rendahnya kebersihan kulit, pakaian, handuk, hingga tempat tidur menjadi faktor utama tingginya kasus tersebut. Kondisi lingkungan asrama yang padat serta keterbatasan fasilitas turut memperparah situasi.

Menanggapi persoalan tersebut, FKK UNUSA menghadirkan solusi melalui pendekatan edukasi, pelatihan, dan pendampingan berbasis spiritual. Santri tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai kebersihan dan pencegahan penyakit, tetapi juga diperkuat motivasi internalnya dengan nilai-nilai Islam. Kebersihan diperkenalkan sebagai bagian dari ibadah, sehingga diharapkan dapat menginternalisasi perilaku hidup bersih secara lebih konsisten.

Program ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Pertama, dilakukan koordinasi dengan pengurus pesantren, survei kondisi asrama, serta penyusunan media edukasi berupa modul, poster, dan materi audiovisual sederhana. Tahap kedua berupa edukasi dan pelatihan santri, meliputi penyuluhan tentang skabies, praktik mencuci sprei dan handuk, menjaga kebersihan kamar, hingga pentingnya tidak berbagi alat pribadi. Selain itu, tim pengabdian juga memperkenalkan regulasi motivasi diri berbasis spiritual, menekankan nilai ikhlas, sabar, dan tanggung jawab dalam menjaga kebersihan. Tahap ketiga adalah pendampingan, di mana kader kesehatan pesantren dilibatkan secara aktif untuk memantau perilaku santri sehari-hari.

Sebanyak 65 santri putra dan putri terlibat dalam program ini. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan sikap. Dari pre-test dan post-test yang dilakukan, santri menunjukkan pemahaman lebih baik mengenai kebersihan serta motivasi yang lebih kuat untuk menjaganya. Secara nyata, terlihat perubahan perilaku seperti lebih rutin mengganti pakaian dan sprei, mencuci perlengkapan pribadi, menjaga kebersihan kamar, serta mengurangi kebiasaan berbagi barang pribadi.

Dekan FKK UNUSA sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Khamida, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi antara ilmu, spiritualitas, dan pengabdian. “Santri tidak hanya diajak memahami pentingnya kebersihan, tetapi juga dimotivasi untuk menjadikannya bagian dari ibadah. Dengan begitu, kebersihan bukan hanya rutinitas, melainkan nilai spiritual yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Selain memberikan manfaat langsung bagi santri, program ini juga membangun kapasitas internal pesantren melalui peran kader kesehatan. Kader dilatih untuk melakukan monitoring sederhana, memberikan edukasi singkat, dan menjadi penggerak perilaku hidup bersih yang berkelanjutan. Dengan cara ini, diharapkan program tidak berhenti setelah pendampingan selesai, tetapi terus berjalan secara mandiri di lingkungan pesantren.

Program ini dipimpin langsung oleh Dr. Khamida, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku Ketua Tim Pengabdian, dengan dukungan tiga dosen anggota serta tiga mahasiswa FKK UNUSA. Keterlibatan mahasiswa menjadi nilai tambah dalam program ini karena selain memberikan pengalaman nyata bagi mereka, juga memperkuat kolaborasi lintas generasi dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Program ini juga menghasilkan luaran penting berupa publikasi ilmiah, sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta model implementasi edukasi kebersihan berbasis spiritual yang dapat direplikasi di pesantren lain. Ke depan, FKK UNUSA menargetkan hasil program ini menjadi role model pengembangan program pengabdian masyarakat berbasis pesantren.

Kegiatan ini semakin mempertegas komitmen FKK UNUSA dalam mewujudkan visi menjadi lembaga pendidikan terkemuka di ASEAN, unggul dalam keperawatan dan kebidanan, berjiwa wirausaha, serta berjati diri Islami. Melalui kegiatan pengabdian yang berkesinambungan, FKK UNUSA berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat karakter spiritual generasi muda, khususnya para santri.